20 Agustus 2010

Limo

Ditulis dalam Sekedar Mencoret pada 5:14 PM oleh erwindra

Huah .., lama gak nulis nie blog. Bukan karena gak dapet inspirasi or apa … bingung mau bikin tulisan gaya apa. Tulisan dari sudut pandang orang pertama … udah. Sudut pandang orang kedua … pernah. Sudut pandang  orang ketiga, sering malah.

Mmm, let’s me see … bahasa gaul ?? wahaha .., :) orang katrok sak ndeso sama kartolo ini mana bisa bahasa gaul. Tapi, seperti katanya si Bondan .., “It’s gonna be okay”.  *apaan c ? (dezing)*

Mumpung dalam suasana bulan suci Ramadhan, gak ada salahnya dong sedikit sharing ma yang laen … suka duka nya menjalani ibadah shaum di Borneo. Pulau yang digadang-gadang akan menjadi tempat alternatif Ibukota Republik Indonesia yang kita cintai ini. Betul ?? Setuju … hehe

Bermula dari kegiatan Safari Ramadhan, kami, semua staf, berkeliling ke desa-pekerja sekitar untuk menjalin

silahturahmi. Berangkat sesaat sebelum dikumandangkannya adzan Isya, kami semua naik Bus, ke tempat yang kami tuju. Setelah itu berjamaah melaksanakan Shalat Isya dan Shalat Tarawih beserta Shalat ‘penutup’ Witir.

Setelah itu barulah kultum disampaikan … dan itulah yang menjadi inti dari tulisan blog kali ini.

Beliau bukanlah seorang ustadz .., malah seorang asisten kepala yang merangkap menjadi seorang pendakwah, malah menurutku. Beliau inilah yang menjadi mentor saya ketika saya melanglang buana untuk pertama kalinya di tanah Borneo, Februari tahun kemaren.

“Islam itu seperti bangunan rumah … dibangun diatas pondasi SYAHADAT, dengan SHALAT sebagai tiangnya, dan PUASA adalah atapnya yang akan melindungi kita dari panas dan hujan, dindingnya terbuat dari ZAKAT yang kita keluarkan yang akan melindungi kita dari terpaan angin. Lalu, isi rumah itu … perabotan, kursi, meja, lemari … dilengkapi apabila kita mampu melaksanakan ibadah HAJI. Jika kita tidak mampu … ya tidak apa-apa. Bangunan rumah inilah yang akan kita perlihatkan di hadapan Allah SWT kelak di akhirat nanti. Apakah kita mau memperlihatkan rumah dengan tiang yang miring … atau malah hanya pondasi batu-batu kali saja ? Padahal kita sudah diberi akal oleh Allah untuk membangun bangunan rumah itu. Jadi tidak ada alasan lagi bagi kita untuk mengelak di hadapan-Nya. Kenapa ? Karena dengan akal kita bisa mendapatkan ILMU yang dapat menyelamatkan kita di dunia dan di akhirat kelak.”

Ya, seperti itulah kalimat yang disampaikan oleh beliau, sang mentor yang pernah jualan kambing untuk menyelesaikan studi S1 nya dulu. Yang selalu menggoda saya, “Ayo yang bujang … yang bujang … segera menikah” hahaha :)

Pangkalan Lada, 10 Ramadhan 1431 H

:: Selamat berbuka ::

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.