20 Agustus 2010
Limo
Huah .., lama gak nulis nie blog. Bukan karena gak dapet inspirasi or apa … bingung mau bikin tulisan gaya apa. Tulisan dari sudut pandang orang pertama … udah. Sudut pandang orang kedua … pernah. Sudut pandang orang ketiga, sering malah.
Mmm, let’s me see … bahasa gaul ?? wahaha ..,
orang katrok sak ndeso sama kartolo ini mana bisa bahasa gaul. Tapi, seperti katanya si Bondan .., “It’s gonna be okay”. *apaan c ? (dezing)*
Mumpung dalam suasana bulan suci Ramadhan, gak ada salahnya dong sedikit sharing ma yang laen … suka duka nya menjalani ibadah shaum di Borneo. Pulau yang digadang-gadang akan menjadi tempat alternatif Ibukota Republik Indonesia yang kita cintai ini. Betul ?? Setuju … hehe
Bermula dari kegiatan Safari Ramadhan, kami, semua staf, berkeliling ke desa-pekerja sekitar untuk menjalin
silahturahmi. Berangkat sesaat sebelum dikumandangkannya adzan Isya, kami semua naik Bus, ke tempat yang kami tuju. Setelah itu berjamaah melaksanakan Shalat Isya dan Shalat Tarawih beserta Shalat ‘penutup’ Witir.
Setelah itu barulah kultum disampaikan … dan itulah yang menjadi inti dari tulisan blog kali ini.
Beliau bukanlah seorang ustadz .., malah seorang asisten kepala yang merangkap menjadi seorang pendakwah, malah menurutku. Beliau inilah yang menjadi mentor saya ketika saya melanglang buana untuk pertama kalinya di tanah Borneo, Februari tahun kemaren.
“Islam itu seperti bangunan rumah … dibangun diatas pondasi SYAHADAT, dengan SHALAT sebagai tiangnya, dan PUASA adalah atapnya yang akan melindungi kita dari panas dan hujan, dindingnya terbuat dari ZAKAT yang kita keluarkan yang akan melindungi kita dari terpaan angin. Lalu, isi rumah itu … perabotan, kursi, meja, lemari … dilengkapi apabila kita mampu melaksanakan ibadah HAJI. Jika kita tidak mampu … ya tidak apa-apa. Bangunan rumah inilah yang akan kita perlihatkan di hadapan Allah SWT kelak di akhirat nanti. Apakah kita mau memperlihatkan rumah dengan tiang yang miring … atau malah hanya pondasi batu-batu kali saja ? Padahal kita sudah diberi akal oleh Allah untuk membangun bangunan rumah itu. Jadi tidak ada alasan lagi bagi kita untuk mengelak di hadapan-Nya. Kenapa ? Karena dengan akal kita bisa mendapatkan ILMU yang dapat menyelamatkan kita di dunia dan di akhirat kelak.”
Ya, seperti itulah kalimat yang disampaikan oleh beliau, sang mentor yang pernah jualan kambing untuk menyelesaikan studi S1 nya dulu. Yang selalu menggoda saya, “Ayo yang bujang … yang bujang … segera m
enikah” hahaha
Pangkalan Lada, 10 Ramadhan 1431 H
:: Selamat berbuka ::