9 September 2010
Tiket Mudik
Ingatkah kau kawan waktu dulu kita bersama …
Ketika kita tak mengenal lelah berlari di hari sore dan berkeringat. Kau selalu mendapat bola dariku. Pertanda itu aku percaya kamulah yang akan mencetak angka untuk tim kita. Walaupun, kau buang percuma kesempatan itu. Tak mengapa. Jari jempol selalu kuangkat … seolah berkata : “Kita coba lagi, kawan”
Sewaktu aku meminjam sebagian rejekimu. Tahukah kau kawan ? Sewaktu itu, aku benar merasa haus dan lapar. Aku tak tahu apakah sudah mengembalikannya padamu. Setidaknya, jika kau melihat senyum terbaikku setelah itu. Senyumku lah yang akan berkata : “Terima Kasih kawan terbaikku”
Ketika kita duduk bersimpuh dan bersandar. Santai dan sejenak melupakan kepenatan yang ada. Bergurau dan bercerita. Aku tak tahu, apakah ada ucapanku yang menyakitimu ketika itu. Namun satu kawanku, apabila waktu itu kau mendengar nyaringnya tawaku, itu pertanda : “Sungguh lucu hidup ini, kawan”
Atau ketika kau melihat kemarahanku. Pedasnya kata-kataku. Tegangnya raut mukaku. Dicinta dan dicaci. Dihina dan dipuji. Setidaknya kau tahu saat ini. Semua itu untuk membentukmu menjadi pemimpin kelak. Karena negeri ini tidak mungkin aku pingkul di pundakku seorang.
Adzan Maghrib berkumandang di langit biru Borneo. Es buah yang setia menemani dia menulis ketika senja tiba itu, dia teguk untuk membatalkan puasa terakhirnya di bulan penuh berkah ini. Rasa manis tak terasa. Aneh. Lidah dibagian pinggir-depan lah yang ia rasakan di bibirnya …,
Aku tak tahu … apakah sudah memohon maaf pada kalian ketika itu. Aku benar-benar lupa. Karena kesombonganku dan rasa egois waktu itu. Karena tulus-ikhlas maaf kalian adalah tiket mudik ku ke hadapan-Nya kelak.
Taqqobalallahu Minna Wa Minkum. Taqqobal Ya Kariim.
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1431 H. Mohon Maaf Lahir dan Batin.
Pangkalan Lada, 30 Ramadhan 1431 H