15 November 2010
Fortuner
Ketika di ujung horizon merekah sinar mentari itulah, aku melihat dua kawan lama saling berpeluk. Dengan berlatar mobil mewah Fortuner ber-plat KH. Entah apa yang diucapkan kedua kawan lama itu. Mereka. Di sudut alam yang lain, aku hanya bisa melihat tanpa mendengar. Mengerti tanpa merasakan. Mengetahui tanpa memahami.
Dua puluh lima tahun, adalah waktu yang lama. Namun hanya sesaat. Sesaat yang berulang-ulang dengan kesibukan mereka. Sesaat yang terus berganti dengan siang dan malam. Sesaat yang kini mereka alami juga, dalam pelukan perpisahan. Fortuner itu menjadi saksi bisu, bagaimana kedua orang itu bercengkerama, saling bercerita tentang waktu yang hilang, saling bertukar ingatan atas kenangan. Dulu, kemarin, dan lalu. Adalah topik paling hangat yang mereka bicarakan. Sedikit sekali mereka menyinggung kini, sekarang, dan saat ini. Entah. Realita kah ?
Esok, besok, dan yang akan datang …, kalian tahu ? Justru dengan itu mereka tampak seperti muda. Bersemangat. Senyum mereka merekah menandingi cerahnya mentari pagi itu. Karena dengan itu mereka tetap hidup dalam harapan. Hidup dalam perbandingan yang fana. Tapi bagaimanapun juga, mereka tetap bertemu dan berpisah sebagai kawan. Tidak lebih dan tidak kurang.
Akhirnya, Fortuner itu memisah pelukan diantara mereka. Hitungan waktu kembali pada titik nol, titik yang didaulat bersama dimulainya sebuah perjalanan. Sebenarnya mereka tidak berpisah, karena mereka hidup dalam satuan waktu yang sama, bukan ?
Kalau memang seperti itu. Darimana awal kata : Perpisahan ?